Pengaruh Pembelajaran Daring Terhadap Perubahan Sikap Anak

kali dibaca

Di masa pandemi ini tentunya banyak dampak yang dialami oleh seluruh masyarakat. Kebijakan dari pemerintah mengeluarkan surat edaran Nomor 4 Tahun 2020 terkait pelaksanaan pendidikan dalam masa penyebaran COVID-19 yang satu di antaranya kebijakan terkait pembelajaran dari rumah. Pembelajaran yang semula dilaksanakan secara tatap muka, kini harus dilaksanakan secara daring guna memutus rantai penyebaran COVID-19. 


Pada dasarnya pembelajaran daring adalah pembelajaran jarak jauh  yang dilakukan secara online menggunakan aplikasi pembelajaran maupun jejaring sosial. Melalui pembelajaran daring kita mendapat banyak inovasi dan cara praktis dalam kegiatan pembelajaran. Dengan menggunakan akses internet tidak ada batasan ruang dan waktu dalam melaksanakan pembelajaran, akan tetapi dibalik ada sisi positif tentunya ada sisi negatif dampak dari pandemi ini baik pendidik maupun peserta didik, bagi para pendidik merasa kesulitan dalam mengembangkan pembelajarannya. Proses pembelajarannya yang biasanya dilakukan secara langsung mencapai aspek baik kognitif, fisik motorik, bahasa , sosial emosional, dan seni kini berubah menjadi pembelajaran daring. Hal ini tentunya sangat berpengaruh kepada tumbuh kembang anak usia dini.


Bagi para peserta didik dampak dari pandemi ini yaitu perilaku, sikap dan karakter anak akibat pembelajaran daring, anak kurang bersikap kooperatif, dalam hal ini kebanyakan anak tidak benar-benar menyimak materi yang dikirimkan guru, mengerjakan tugas dalam bentuk foto maupun video. Sangat sedikit anak yang mengajukan pertanyaan mengenai materi. 


Anak mengalami perkembangan kurang baik dalam beberapa aspek, seperti kurang dapat menerima keberagaman atau multikultural dan juga anak cenderung kurang bersikap toleransi kepada orang lain, kurangnya bersosialisasi dengan teman terbatasi adanya belajar dari rumah sehingga interaksi sesama teman kurang terjalin membuat anak merasa kesepian dan merasa bosan. Anak-anak juga kurang antusias dalam mengikuti proses pembelajaran daring terjadi karena adanya kendala seperti jaringan sinyal yang susah, keaktifan orang tua dalam peran sertanya mendampingi anak dalam belajar. Kurangnya pengetahuan orang tua dengan teknologi informasi dan terdapat anak yang tidak mau mengerjakan tugas biasanya terjadi karena anak merasa bosan dengan materi yang disampaikan atau anak tidak senang dengan cara guru menyampaikan materi pembelajaran. 


Penerapan kebijakan adanya pembelajaran dilakukan secara daring sebagian anak merasa cemas dan tertekan. Banyaknya tugas yang diberikan oleh guru membuat anak menjadi stress.


Dunia anak merupakan dunia bermain yang cenderung melibatkan anak berinteraksi secara langsung, dan terlibat dalam beberapa kegiatan. Ketika anak belajar di sekolah yang biasanya menggunakan metode bermain sambil belajar, berubah ketika anak harus belajar dari rumah tentunya membuat anak menjadi tidak nyaman, hal ini yang membuat anak mengalami berbagai permasalahan seperti sulitnya mengontrol disiplin belajar pada anak usia dini. Anak menjadi kecanduan bermain handphone android terutama bermain game sehingga lupa akan waktu. Dikarenakan pembelajaran daring memberikan kesempatan yang besar untuk anak menggunakan handphone untuk belajar dan bermain game. Sehingga anak menjadi telat makan, malas tidur siang, dan marah apabila tidak diizinkan bermain game melalui handphone.


Bagaimanapun, pembelajaran yang dilakukan secara daring tidak dapat dilakukan untuk mencapai indikator keaktifan anak secara sepenuhnya. Karena pada dasarnya proses pembelajaran tidak hanya Transfer of Knowledge saja tetapi harus ada interaksi timbal balik antara peserta didik dan guru dalam proses pembelajaran yang dinamis untuk mentransfer nilai-nilai ke siswa agar dapat melakukan perubahan perilaku maupun tindakan.


Dyah Nur Rahmawati/1803106073/KKN RDR UIN WALISONGO
Tim redaksi: Edukratif News



Previous Post Next Post