Harapan Untuk Naufan

kali dibaca


Oleh: Fahd Pahdepie*


Saya tidak mengenal siapa Naufan Fadhil. Belum pernah bertemu. Tetapi Naufan mondok di pesantren yang sama seperti saya dulu, Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut. Saat ini ia duduk di bangku kelas dua aliyah, kelas 2 SMA, usianya 16 tahun. Angka yang sama saat saya meninggalkan ma’had dulu.


Sekitar seminggu lalu, berita tentang Naufan sampai kepada saya melalui grup WhatsApp alumni. Dibantu teman-teman seangkatannya, Naufan membuat video pendek yang menceritakan bahwa ia menderita Osteosarcoma Femur, kanker tulang langka yang membuat kakinya membengkak dan sulit berjalan. Sedihnya, setelah melalui serangkaian tes dan biopsi, dokter mengabarkan bahwa ia harus diamputasi atau tulang kakinya diganti secara permanen dengan tulang buatan.


Saya menyaksikan video Naufan dengan satu memori di kepala: Seusia Naufan saat itu, saya sedang aktif-aktifnya di sekolah. Setiap siang bermain basket atau sepakbola. Sore hari bergaya menuju kelas sambil berharap dilirik santri putri. Sedang aktif-aktifnya di organisasi. Pikiran dan perasaan dijejali impian tentang masa depan, mau kuliah ke mana, nanti jadi apa. Hati saya bergetar saat menyadari hari-hari Naufan dengan tumor di tulang kakinya, terpincang-pincang atau berjalan menggunakan kruk, bagaimana perasaannya?


Malam itu juga saya langsung menulis pesan kepada beberapa teman. “Kita bergerak bantu Naufan!” Tulis saya di beberapa grup WhatsApp. Besoknya saya memimpin rapat kecil di kantor inilah.com untuk memulai inisiasi ini. Saya menggalang dana untuk biaya pengobatan Naufan yang konon membutuhkan sekurangnya Rp50 juta. Keluarganya kurang mampu. Tapi Naufan harus sembuh. Ia tak boleh kehilangan cita-citanya. Hanya itu pikiran saya.


Apakah Naufan akan sembuh? Tentu kita berdoa yang terbaik untuknya. Sambil mengupayakan ikhtiar terbaik pula untuk kesembuhan itu. Tetapi, apapun yang terjadi nanti, usaha ini sebenarnya untuk menunjukkan kepada Naufan bahwa ia tidak sendirian. Bahwa doa-doa dan usahanya untuk sembuh selama ini tidak membentur tembok. Banyak orang yang menyayanginya dan ingin ia kembali menekuni cita-cita dan harapannya tentang masa depan… menjadi apapun ia kelak, penyakit ini tak boleh menghentikannya.

.

Seandainya Naufan membaca tulisan ini, saya ingin ia mengerti bahwa bisa jadi cobaan ini adalah pintu ajaib untuknya memasuki masa depan yang istimewa. Jika Naufan bisa melewati ini dengan ‘mindset’ yang terus tumbuh dan menguat, ia akan menjadi orang besar suatu hari nanti. Apapun yang terjadi. Jangankan berjalan dengan kruk di ketiak, bahkan tanpa penglihatan dan pendengaran pun Helen Keller bisa mengubah dan menginspirasi dunia, bukan?

.

Sejujurnya, saya terpesona dengan cara Naufan keluar dari cobaan ini. Dibantu teman-temannya, ia membuat sebuah video pendek menceritakan perjuangannya melawan Osteosarkoma. Saya kira, butuh mentalitas tersendiri untuk membuat video semacam itu, apalagi dengan suaranya sendiri berkata-kata penuh kekuatan sekaligus kerendahan hati meminta pertolongan orang lain. Untuk orang tua Naufan, atau teman-temannya, saya katakan Anda semua punya anak dan sahabat yang luar biasa. Saya sendiri belum tentu sekuat itu.

.

Belakangan saya membaca kisah sedih Naufan dari unggahan Instagram sahabat saya, @siumed, yang merupakan ketua Ikadam Care. Umed bercerita tentang perjalanan tiga sahabat Rio, Iqbal dan Naufan di pondok. Ketiganya aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) ranting Darul Arqam dan disebut-sebut akan menjadi masa depan organisasi ini. Kecerdasan, kegigihan, dan kelincahan ketiganya menginspirasi banyak orang, kakak kelas maupun adik kelas.


Namun, malang, Rio meninggal usai mengalami sebuah kecelakaan hebat pada bulan Juni 2021 lalu. Sebagai sahabat, Iqbal melayat ke rumahnya dengan perasaan sedih. Siapa sangka, sepulang takziah itu, Iqbal mengalami kecelakaan motor dan meninggal dunia. Tragis. Dari tiga sahabat, kini tinggal Naufan, selain sedih ditinggal dua sahabat terbaiknya, kini ia harus berjuang melawan kanker tulang yang tiba-tiba datang.

.

Panggilan untuk membantu Naufan adalah panggilan kemanusiaan. Di sekeliling kita barangkali banyak yang mengalami tragedi seperti Naufan, bahkan mungkin dengan cerita lebih sedih lagi. Tapi yang bisa menghentikan manusia dari keinginan untuk mencapai masa depan bukanlah penyakit atau tragedi, melainkan hilangnya harapan dan cahaya hidup.

.

Membantu Naufan adalah simbol untuk menjaga harapan dan cahaya hidup itu, tak boleh redup apalagi padam. Apapun yang bisa kita kerjakan untuk membantunya, ikut berdonasi atau sekadar mendoakan, penting untuk memenuhi panggilan kemanusiaan itu. Bisa jadi Naufan adalah simbol diri kita sendiri yang sedang berjuang, apapun yang sedang kita hadapi.

.

Dalam empat hari sejak saya dan teman-teman inilah.com menginisiasi penggalangan dana untuk Naufan ini, tak menyangka bantuan mengalir deras. Ratusan orang membantu meskipun hanya dengan seribu dua ribu. Ribuan doa mengalir. Dermawan menghubungi saya melalui jalur pribadi. Komunitas-komunitas bergerak membantu. Hari ini, dengan penuh rasa syukur, bisa saya katakan bahwa Naufan akan bisa membayar biaya rumah sakitnya yang tak ditanggung BPJS itu! Lebih dari itu, ia akan tahu bahwa ada banyak orang baik yang mendukungnya untuk sembuh dan terus berjuang.

.

Sekali lagi, saya tidak mengenal siapa Naufan Fadhil. Mungkin sama seperti Anda. Tetapi itu tidak penting, bukan? Empati tidak mengenal batas identitas. Kebaikan selalu melampaui apa-apa yang kita ketahui. Jika Tuhan memberi kita kekuatan, kita bertanggung jawab untuk mensyukurinya dengan perbuatan baik. Sekecil apapun itu. Meski esok hari kiamat dan kita hanya bisa menanam sebiji kurma.


Halaman galang dana Naufan:

CP: 081271270721 (Gilang)

kitabisa.com/bantunaufan


Salam baik.


*Fahd Pahdepie

CEO @inilah_com





Previous Post Next Post