Sambut Hari Ibu, Membincangkan Saia Karya Djenar Maesa Ayu

kali dibaca


Inspirasi - Tepat pada hari Ibu, Kedai Kobar Baca menyajikan sebuah ruang interaktif. Selasa (22/12) malam, Saia, karya Djenar Maesa Ayu, dijadikan bahan perbincangan. “Buat membuka fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat melalui karya-karyanya,” kata Jun, menjelaskan. Perbincangan bebas, membungkus segala macam situasi dan kondisi yang ada di lingkungan sekitar, terutama soal kekerasan terhadap perempuan.


“Terutama merepresentasikan sosok Ibu dan lainnya. Sehingga, partisipan dapat memahami, bentuk-bentuk kekerasan. Misal, apa saja yang dialami perempuan di ranah rumah tangga,” ujar Jun.


Risa Sofiatun (24) selaku pemantik, menyatakan kekagumannya ke Djenar Maesa Ayu. “Penulis wanita keren. Karyanya berani mengangkat tema yang sebenarnya dianggap tabu. Ditambah, korelasinya sangat dekat terhadap keseharian perempuan; serta membawa ruang terhadap persoalan patriarki,” ucapnya. Bercerita panjang lebar.


Saia sendiri sebenarnya banyak memberi pelajaran tentang bagaimana asal muasal kasus KDRT terjadi. Faktor internal hubungan pribadi tokoh, diceritakan secara apik. Meski memang harus diakui, banyak cerpen yang dikisahkan lewat alur maju mundur. Kekurangan inilah yang menjadikan Saia, sedikit susah dipahami, andai dibaca kurang teliti.


“Secara pribadi sih, saya punya keinginan buat ketemu langsung sama Djenar Maesa Ayu. Banyak karya dia yang menginspirasi pembaca. Hal tersebut juga jadi latar belakang kenapa saya memilih Saia untuk dibahas. Nah, ketika Djenar bilang bahwa karya dia lebih ke sisi humanis, ketimbang bicara feminis, amat menarik diperhatikan,” celoteh Risa, sekaligus mengungkapkan, kenapa sampai bisa memilih Saia.


Cerita paling disukai Risa, adalah Gadis Korek Api, menyajikan sebuah teks epik. Betapa pilu bila dibayangkan, menjadi seorang gadis yang harus menerima beban hidup sebegitu berat. Sebagai kupu-kupu malam, kondisinya amat tragis, dan Djenar bisa mempersembahkan kepada pembaca suatu pelajaran berharga.


Partisipan yang bergabung ke ruang acara, antara lain dari teman-teman mahasiswa STAIP, beberapa dari IAIN Salatiga. Lalu ada juga dari IAIN Surakarta, dan pemuda-pemuda non akademik. Selain itu, hadir perwakilan dari IPNU. Serta beberapa kawan lain, yang bahkan masih berstatus pelajar di sekolahan.


Jun menjelaskan, acara ini juga sebagai bentuk rutinan Kedai Kobar Baca pada Selasa malam. Diskusi intensif untuk menguatkan literasi, mengapresiasi karya penulis, hingga membicarakan isi buku. Disambung dengan pembahasan interteks, antara naskah dengan situasi dan kondisi yang hangat diperbincangkan khalayak di lingkungan sekitar.


“Selain itu, Selasa malam nanti juga sudah disiapkan topik-topik baru. Supaya kegiatan tetap terus berlanjut dan bergilir, antar satu partisipan dengan partisipan yang lain. Pada intinya, di Kedai Kobar Baca semua bisa berbagi, dan saling belajar,” ucap Jun, sembari menyeruput secangkir kopi.


Redaksi: Edukratif News

Previous Post Next Post