Abdikan Diri Demi Ilmu, Guru Madin Al-Ishlah Tetap Mengajar Meski Minim Gaji

kali dibaca


EdukratifNews/Inspirasi - Adalah Al-Ishlah, salah satu madin di Dusun Tanggungkrajan, Desa Tanggungharjo, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan yang masih eksis melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Madrasah ini memiliki sekitar 450 murid dan 35 guru. Terdapat dua tingkatan kelas Taman Pendidikan Qur'an (TPQ) dan 9 kelas lanjutan. Pembelajarannya beragam, ada fiqih, tajwid, tauhid, akhlak, aqidah, mantiq, nahwu dan masih banyak lagi. Kitab yang dipelajari pun memiliki tingkatan dari yang dasar sampai tinggi.


Mayoritas guru di Madin Al-Ishlah adalah petani, namun kredibilitas pengajaran dan keilmuan dapat dipertanggung jawabkan. Mereka adalah jebolan pesantren-pesantren besar dengan sanad yang jelas.


"Kebanyakan guru disini petani. Tapi kalau masalah keilmuan para guru ini bisa dibilang mumpuni. Pak guru bu gurunya lulusan pondok gedhe sanad e apik", terang Ahmad Zubaidi, Waka Kesiswaan Madin Al-Ishlah Minggu (14/11).


Menurut Zubaidi, di tengah tuntutan kebutuhan pendidikan keagamaan bagi anak-anak dan gaji sebagai penunjang kesejahteraan guru, para ustadz dan ustadzah Madin Al-Islah tetap mengajar setiap hari, meski tidak ada gaji tetap yang mampu menopang kebutuhan sehari-hari. 


"Anak-anak itu butuh belajar agama dari kecil, itu yang membuat kami tergerak berangkat. Nggak ada gaji tetap, Mbak. Kalau mau perhitungan bisyaroh segitu nggak cukup buat kebutuhan. Tapi bukan itu yang kami cari", tuturnya.

Guru Madrasah Diniyah (Madin) Al-Ishlah tetap mengajar meski tidak memperoleh gaji tetap dan menjanjikan.


Lebih lanjut, Zubaidi mengungkapkan bahwa mengajar adalah panggilan jiwa untuk mengabdikan diri kepada ilmu. Demi kemajuan agama dan masyarakat, ilmu apapun sedikit atau banyak harus tetap diamalkan dan ditularkan.


"Gimana ya, ngajar itu panggilan jiwa. Tidak bisa diukur dengan uang meski butuh. Ada misi khidmah ilmu yang jauh lebih penting agar masyarakat bisa belajar dan maju. Ya meski sedikit, apalagi banyak, wajib disampaikan ilmu itu. Tak kira guru-guru disini begitu, Mbak", ungkapnya.


Berawal dari tujuan agar anak tidak bermain sampai sore, hingga akhirnya melihat urgenitas pendidikan keagamaan di madin ini bagi perkembangan keilmuan. Madin Al-Ishlah memiliki misi untuk mencetak generasi penerus yang berakhlak baik dan dapat bermanfaat bagi masyarakat.


"Awalnya biar anak itu ndak main terus biar ada manfaatnya ngisi waktu senggang, belajar. Sampai sadar ternyata sangat penting ilmu-ilmu agama ini untuk anak ketahui. Supaya anak-anak punya unggah-ungguh dan manfaat", tandasnya.


Hal tersebut juga diamini Thohirin, salah satu guru sekaligus bendahara madin Al-Ishlah. Menurutnya meski benefit finansial yang diterima tidak bisa dibilang cukup, guru-guru mengajar untuk mencari ridho Allah SWT.


"Uang madin itu tidak seberapa. Tapi dewan guru disini niat ikhlas mencari ridho Allah dan kemanfaatan ilmu. Kalau masih mikir uang tujuan utama nggak bakal ada yang mau berangkat guru-guru", terangnya.


Niat mencari pahala dan keberkahan inilah yang menjadi kesemangatan guru-guru dalam mentransfer ilmu kepada murid-muridnya secara sukarela. Para guru berharap langkah mereka memang nyata memberikan kemanfaatan bagi anak-anak dan orang banyak pada umumnya.


"Niat lillahi ta'ala mulang kanthi ikhlas. Semoga bener-bener manfaat untuk anak-anak dan masyarakat", pungkasnya.


Penulis: Adha Nafi'atur Rofiah/1804046069/KKN RDR 77 UIN Walisongo
Tim redaksi: Edukratif News



Previous Post Next Post